dNWv7S2bxhSzohZDGi4JQgKINhk Planet Pluto Bukan Planet?

Planet Pluto Bukan Planet?

Diposkan oleh Eep Rachman on Jumat, 01 Maret 2013

Seperti kita ketahui bahwa Pluto saat ini sudah tidak menjadi bagian dari tata surya kita. Pluto kini telah tiada, kemana ya ? tak seorang pun tahu ( apalagi saya, hehehehehe). Para ahli Astronomi hanya mengetahui perkiraan kapan Pluto 'keluar' dari keanggotaan tata surya kita. Tapi ada baiknya kita tahu mulai kapan Pluto  'hilang' dan apa alasan-alasan para Astronom menyimpulkan bahwa Pluto sudah tidak menjadi bagian dari tata surtya kita, berikut penjelasannya.

Para Astronom sepakat bahwa mulai tanggal 24 Agustus 2006 kita tidak lagi boleh menyebut Planet Pluto. Karena sejak saat itu Pluto sudah diputuskan tidak lagi menjadi bagian dari sistem tata surya kita.

Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional ( International Astronomic Union/IAU ) Ke 26 di Republik Ceko, tepatnya di kota Praha, menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di Tata Surya kita. Dan sejak saat itu anggota Tata Surya hanya terdiri dari delapan planet saja, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus.

Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah 76 tahun menjadi anggota Keluarga Planet Tata Surya kita merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A Sidang Umum IAU Ke-26 berisi definisi baru yaitu

     "Dalam resolusi tersebut dinyatakan, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat:

1. Mengorbit Matahari
2. Berukuran cukup besar sehingga mempu mempertahahnkan bentuk bulat
3. Memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (artinya tidak ada benda langit lain di orbit tersebut.")

Dengan definisi baru tersebut, Pluto tidak termasuk katagori planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan Matahari dibandingkan Neptunus.

Menurut Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, Dr Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum IAU tersebut adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung sejak awal 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.

Para astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini mengatakan: "Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet."

Selain itu, perkembangan teknologi teleskop juga membawa pada penemuan bebagai benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO ). Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 Satuan Astonomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta kilometer ) dari Matahari.

Beberapa KBO ( Kuiper Belt Object ) sangat menarik perhatian karena berukuran hampir sama atau bahkan lebih besar daripada Pluto ( diameter 2.300 km ) dan ada yang memiliki satelit atau "bulan".

Beberapa obyek tersebut antar lain, Quaoar ( diameter 1.000 km-1.300 km, Sedna (1.180 km-1.800 km ), dan yang paling terkenal adalah obyek bernama 2003 UB313 yang ditemukan Michael Brown dari California Institute of Technologi (Caltech) pada 2003 lalu.


Obyek yang dijuluki Xena tersebut memiliki diameter 2.400km, yang berarti lebih besar daripada Pluto. Xena sempat dihebohkan sebagai planet ke-10 Tata Surya.

Sejak saat itu, sambung Taufiq, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. "Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati,: tutur mantan Ketua Jurusan Astrnomi Institut Teknologi Bandung ini.

Kesepakatan itu sendiri bukannya datang dengan mudah. Taufiq mengatakan, pengambilan keputusan itu bahkan dicapai dengan cara pemungutan suara di antara para angota IAU yang hadir setelah didahului perdebatan yang sangat sengit.

Empat astronom senior dari Indonesia turut serta dalam Sidang Umum IAU tersebut, yakni Jorga Ibrahim,Iratius Radiman, Suryadi Siregar, dan Ny Permana Permadi.

Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA, New Horizon, yang diluncurkan ke Pluto, Januari lalu, mengaku merasa "malu" terhadap keputusan itu. Meski demikian, misi senilai 700 juta dollar AS dan baru akan tiba di Pluto pada 2015 itu tetap akan dilanjutkan. "ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh."

Pencopotan Gelar

Wajar saja pencopotan gelar planet dari Pluto memicu reaksi yang emosional. Pluto selama ini memiliki tempat tersendiri di hati para astronom, baik yang profesional maupun amatir. Pluto sering dianggap "Si Bungsu Tata Surya" karena jaraknya yang terjauh dari Matahari dan ditemukan paling akhir dibandingkan delapan planet lainnya.

Orbit Pluto yang sangat lonjong dan tidak sejajar denga bidang lintasan planet lainnya juga membuat planet ini unik. Pluto juga sempat dianggap sebagai jawaban dari misteri Planet X, sebuah planet hipotesis yang diduga ada di luar orbit Neptunus dan menyebabkan gangguan pada orbit planet Uranus dan Neptunus.

Meski ukuran Pluto kemudian terbukti terlalu kecil untuk menjadi Planet X, dugaan tersebut menjadi bagian dari legenda Pluto.



Sumber :
kotakgame.com















{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar